Berita Terbaru

Lihat Semua Berita

Agenda Terbaru

Lihat Semua Agenda

Kalender

17 October 2017
MgSnSlRbKmJmSb
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

 Pemberantasan korupsi serta penindakan tegas terhadap para koruptor di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Bahkan, penegak hukum itu sendiri justru banyak yang menjadi tersangka korupsi sehingga kepercayaan publik terhadap penegakkan hukum di Indonesia, khususnya dalam pemberantasan korupsi cukup memprihatinkan. Terlebih posisi Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi (KPK) ingin diperlemah oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Hal tersebut menunjukkan bahwa memang korupsi belum ada matinya di Indonesia.

Seperti judul buku karya Dr. Binoto Nadapdap, S.H., M.H., “Korupsi  Belum Ada Matinya”, yang mengupas berbagai permasalahan korupsi. Naskah dalam buku ini merupakan kumpulan artikel penulis kelahiran Porsea, 20 Oktober 1965, mengenai permasalahan di seputar korupsi yang dipublikasikan di berbagai media cetak, baik itu yang ditulis sebelum terbentuknya Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi (KPK) maupun yang dipublikasikan pada saat awal KPK mulai bekerja.

Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) Program Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (PPS UKI) yang concern terhadap pemberantasan korupsi menggelar acara bedah buku “Korupsi Belum Ada Matinya” pada Jumat, 27  Mei 2016, bertempat di Aula Kampus Pascasarjana UKI, Jl. Diponegoro No. 82-86, Salemba, Jakpus.

Acara bedah buku tersebut disambut dan dibuka secara resmi oleh Direktur PPS UKI, Ir. T. Sunaryo, Ph.D.

“Sore ini kita akan mendengarkan diskusi bedah buku. Saya katakan bahwa korupsi tidak akan mati karena merupakan perilaku rasional manusia. Kemungkinan besar secara evaluasi kegunaan (fungsi) yang melebihi ongkosnya menyebabkan terjadilah korupsi. Korupsi adalah kerusakan secara masif, eksternalistisnya sangat besar sekali,” ucap Direktur.

Setelah mendengarkan sambutan dari Direktur PPS UKI, acara pun dimulai dan dimoderatori oleh Nourma Ida Silalahi, S.H.

Dr. Binoto Nadapdap, S.H., M.H., adalah salah satu dosen di UKI. Beliau juga membuka kantor advokat dan aktif menjadi penulis.  Buku “Korupsi  Belum Ada Matinya” ini ditulis olehnya selama sepuluh tahun hingga diterbitkan pertama kali tahun 2014. Dalam bukunya tersebut ia banyak menyorot para penegak hukum.

“Buku ini ditulis selama 10 tahun. Yang menjadi sorotan adalah penegak hukum, artinya pelaku hukum. Kalau kita mau memberantas korupsi seharusnya penegak hukum yang paling disorot. Yang juga mau saya katakan, kita memberantas korupsi jangan hanya dilihat dari penegak hukum saja, tetapi harus ada kerja sama semua pihak sebagai sebuah sistem,” ucap Dr. Binoto.

Dalam acara bedah buku ini hadir beberapa praktisi hukum, salah satunya Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho, S.H., beliau memberikan pandangannya tentang buku karya Binoto.

Menurut Emerson, pemerintah dan para penegak hukum di Indonesia kurang tegas dengan para terpidana korupsi, sebagai contoh masih banyak kasus yang belum diungkap dan masih adanya perlakuan khusus yang diberikan kepada para koruptor.

“Saya tidak melihat bahwa ada pemimpin di negara ini yang betul-betul memberantas korupsi. Contohnya seperti kasus korupsi Dana BLBI. ICW belum begitu nyaman dengan konteks penegakkan hukum. Ketika memberantas korupsi kita harus optimis karena koruptor juga optimis mau korupsi. Kalau kita tidak optimis, kita akan kalah dengan koruptor,” ujar Emerson.

Selain Emerson, Ketua Ikatan Alumni Universitas Kristen Indonesia (IKA UKI), Saor siagian, S.H., M.H., menyampaikan tanggapannya tentang buku karya Dr. Binoto. Menurut beliau, korupsi sudah sangat mengakar dan bukan sesuatu yang istimewa. Saor juga mengapresisasi MIH UKI yang mengadakan kegiatan bedah buku.

“Buku ini sangat saya apresiasi. Memang kultur masyarakat kita yang tidak bagus dan korupsi sudah dianggap biasa. Bedah buku ini diadakan di UKI dan saya lihat semangat UKI sudah dimulai. Jadi, sesungguhnya sumber dari segala sumber kejahatan di negara ini adalah korupsi, bukan narkoba dan teroris,” jelas Saor.

Dalam bedah buku ini, peserta yang hadir juga diberikan untuk menyampaikan pernyataan dan pertanyaan yang dapat diajukan langsung kepada penulis. Yang menarik adalah, untuk 50 orang pertama yang hadir dalam acara bedah buku ini langsung mendapatkan buku “Korupsi  Belum Ada Matinya” karya Dr. Binoto Nadapdap, S.H., M.H secara gratis dari panitia.

Dr. Binoto Nadapdap, S.H., M.H berharap buku ini bisa membuka mata hati kita semua soal pemberantasan korupsi. Korupsi harus dicegah dan diperangi untuk Indonesia yang lebih baik dalam hal pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Download

Search



Link




Pengunjung


Total Pengunjung:368574
Hari ini:79
Total Hit:1537180

Login